Tinggalkan Jejak Lebih Jauh

Monday, February 22, 2016

MT. Argopuro 3.088 Mdpl Via Bremi - Baderan


Puncak Argopuro 3.088 Mdpl

Argopuro, sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Argopuro diartikan gunung Pura atau juga puncak Rengganis. Gunung Argopuro terdengar asing bagi beberapa orang, terutama bagi mereka yang tidak bertempat tinggal di Jawa Timur. Hal ini wajar karena Jawa Timur adalah surganya Gunung-gunung api terkenal, seperti sang legendaris Gunung Semeru sang pemilik puncak sejati, Gunung Raung, dan  Puncak Argopuro yang merupakan puncak tertinggi Probolinggo. melewati Taman Hidup, Cisentor hingga Cikasur yang mengaggumkan, membuat puncak Argopuro banyak dikunjungi saat bulan purnama. Daerah ini berada di Kabupaten Bremi, Gunung ini memiliki ketinggian 3.088 Mdpl. Suku asli Bremi dan sekitarnya meyakini adanya Dewi Rengganis yang begitu fenomenal di kalangan pendakian.

Diapit oleh Gunung Semeru dan raung gunung ini menyajikan keindahan yang teramat sangat luarbiasa, Lebatnya hutan. Luasnya Savana disertai beraneka ragam binatang liar yang masih menghuni lokasi ini, menjadikan sebuah gunung api tidak aktif yang patut dipertimbangkan untuk dikunjungi. panjangnya jalur pendakian (sekitar empat puluh kilometer) yang menjadikan predikat gunung ini sebagai jalur pendakian terpanjang se pulau Jawa, Dari (Bremi dan berakhir di Baderan). 

Gunung ini menyajikan sebuah menu cerita yang menarik, mulai dari segi sejarah, dan mistis di balik keindahan alamnya.  Cerita cerita inilah yang akan selalu mengelilingi keindahan tiga puncak nan jauh diatas sana Puncak Arca, Puncak Argopuro & Puncak Rengganis.
_________________________________________________________________________________

Pendakian ini berawal dari pesan ajakan via Media Sosial pada tanggal 13 & 19 Januari 2016

Singkat cerita tibalah tanggal 29 Januari 2016 yang memang sudah direncanakan untuk pendakian ke gunung "Cikuray" Garut. yang menjadi modal latihan fisik untuk pendakian ke gunung "Argopuro" untuk pendakian Cikuray bisa dilihat di di sini [ Klik ]

09 Februari 2016
Menuju Tebet Pukul 19:30


Dari Halim Perdanakusuma saya menggunakan transportasi G*Jek dengan tarif Rp. 12.000,- dengan waktu tempuh 30 Menit. dari sini kami ber-3 kumpul (Mas yadi, Mas Abi & Saya). kami bercengkrama sabil menikmati kopi dan berbatang-batang Nikoton hingga larut malam tepatnya pukul 00:30 kami baru beristirahan sejenak sebelum petualangan di mulai.

Kumpul di Tebet
10 Februari 2016 (Hari Ke-1)


Pukul 01:30 saya terbangun dari tidur, terlihat Mas Yadi sudah bangun sedangkan Mas Abi Masih terlelap dalam mimpi. hingga terpaksa harus kami bangunkan. tak terasa Jam di tangan menujukan pukul 02:15, kamipun bergegas berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Pejalanan Tebet - Cengkareng memakan waktu 45 menit. Kami tiba di Bandara pukul 03:00. serta langsung bergegas melakukan check In, Wraping, mengambil beberapa Photo dan langsung masuk ke Gate.
Bandara Soekarno Hatta cengkareng 
Pukul 04:00 
Perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Juanda Surabaya, Selama perjalanan kami manfaatkan untuk sejenak memejamkan mata aga kondisi fisik tetap terjaga, kami tiba di surabaya pukul 05:30, di sini kami bertemu dengan Team yang sudah menunggu di sini (Mas Irwan, Mas Imam, Mas Jumhari & Mas Tio)
Bandara Juanda Surabaya
Pukul 07:00

Setelah dirasa cukup beristirahan dan sarapan kami ber-7 bergegas menuju pos pendakian Bremi, dengan rute bandara Juanda - bangil - Pasuruan - Probolinggo, kami tiba pukul 11:00, langsung Melakukan registrasi, Makan sinang dengan menu Nasi Pundel yang di beli di daerah bangil saat di perjalanan serta bertemu dengan Pak Havit (Ranger), setelah dirasa cukup mempelajari jalur pendakian dengan berbekal peta dari pos pendakian kamipun melakukan repacking dan memulai petualangan. 

berikut gambar saat kami makan siang sekaligus brefing
Pos Pendakian (Kediaman Bapak Arifin)
Pak Arifin berada paling kiri mengenakan T-Shirt hitam & Pak Havit yang mengenakan topi


Peta Jalur Pendakian yang kami dapatkan di pos pendakian Bremi, Peta ini di lengkapi estimasi waktu perjalanan serta no. telepon Basecamp Bremi (Bapak Arifin)
Peta dari Pos pendakian Bremi
Kami di antar Mas Tio & Pak Arifin sampai ke Gapura Taman hidup. dari sinilah perjalanan kami di mulai.

Rute yang kami tempuh

Mas Jumhari, Mas Imam, Mas Abi, Mas Mulyadi, Saya, Mas Irwan, Mas Tio & Pak Havit
(Ki-ka)

Bremi - Taman Hidup


Tetesan Gerimis hujan mengiringi langkah kami menelusuri ladang warga yang menajak, di ujung ladang warga di tandai dengan sebuah bangunan di sekitar Hutan damar.
Ladang/Kebun Warga Sekitar lereng gunung
Dari Pos ini kami mulai memasuki hutan damar yang memanjakan mata selama perjalanan
POS Hutan Damar
Saat berada di hutan damar
Masih di area hutan damar langkah kami pun terhenti disaat hantaman tetesan air hujan kian membesar kami pun segera mengenakan raincoat agar tetap terlindungi dari derasnya guyuran hujan dan melanjutkan perjalanan

Saat menggunakan perlengkapan hujan
Langkah kami kian bertambah berat di kala track yang terus menerus menajak di tambah air yang menalirinya, menjadikan jalan setapak menajak ini laksana sungai kecil yang kian membesar, Setelah berjalan 2 Jam akhiranya tanjakan pun berubah menjadi landai dan sedikit menurun menuju taman hidup, 

Kawasan datar dan dilanjutkan menurun
menuju taman hidup
30 Menit dari gambar di atas kami pun tiba di Taman Hidup seiring berhentinya guyuran hujan, mata kamipun langsung tertuju pada danau taman hidup.
Danau taman Hidup
Setelah dirasa cukup dan hari mulau gelap kami menuju tenda untuk menghabiskan malam, banyak musang berkeliaran di kawasan ini, kami pula bertemu dengan rombongan dari Depok yang sudah 1 malam berkemah disini. malam terasa singkat pagi seakan akan begitu cepat tiba dan membangunkan kami dari tidur, saat keluar dari tenda telah bertambah satu teda lagi, ternyata mereka tiba pukul 10 malam di saat saya terjaga dari tudur. 

* usut punya usut ternyata Mas Yadi pada malam hari di sekitar taman hidup, setelah buang air kecil melihat penampaka berwujud Pak Havit dengan tinggi 2 kali lipat, menurut mas yadi tinggi tenda berada di bawah perut sosok kastral tersebut

11 Februari 2016 (hari ke-2)
Danau Taman Hidup-Cemara Lima-Puncak Hyang (Arca)-Puncak Argopuro-SavanaLonceng Via gunung rangkak

Sebelum melanjutkan perjalanan kami menikmati danau taman hidup di pagi hari yang membuat rasa kantuk sirna seketika
Danau taman hidup pagi hari
Selfie di danau taman hudup
ketika sarapan telah siap di sajikan oleh Chef Zum-zum (Jumhari), kami sarapan dan Packing untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak hyang (arca) dan Puncak Argopuro dengan check point di Cemara Lima. seperti hari Pertama langkah kami di iringi derasnya hujan yang ikut mewarnai jalan yang menajak curam, 

Menuju Cemara Lima
selama perjalanan ada 2 sumber air yang membentuk curug kecil dengan tekstur berbatu, menurut Mas Irwan, Aliran air hanya ada di musim hujan, jadi diperlukan persiapan bekal air yang memadai untuk memnuhi kebutuhan air dikarenakan sumber air berikutnya berada di cisentor.

Setelah 2 Jam bergelut dengan tanjakan dan hujan kami pun tiba di cemara lima di sini kami membuat bivak dengan flysheet, untuk sejenak istiraha dan makan siang
Cemara Lima
dikarenakan hujan tak kunjung reda serta badan yang kian mengigil akhirnya kamipun melanjutkan perjalananan menju puncak, jalan yang makin menajak benar-benar membuat kami merangkak tak heran jalur ini di namakan gunung rangkak. saat di persimpangan jalan kami terpecah dengan mas Imam & Mas jumhari, kami mengambil jalur kiri & mereka mengambil jalur kanan untuk membangun tenda di savana lonceng dengan tujuan menghemat waktu dan menyiapkan minuman hangat.

Jalur kiri menuju Puncak yang kami lewati (pak havit, mas yadi, mas abi, mas irwan dan saya) kian menajak hingga tiba di puncak Arca.
Menuju Puncak Hyang (Arca)
Setelah melewati tanjakan seperti pada gambar di atas langkah kaki kami mulai menginjakan bebatuan membentuk anak tangga menurut Pak Havit (Rager), tangga ini di bangun sejak dahulu saat pegunungan ini masih merupakan kerajaan tertinggi di Probolinggo, diakhir anak tangga kita langsung di hadapkan pada sebuah arca yang sudah tak berkepala dengan bentuk badan yang masih utuh, terdapat beberapa uang kertas dan logam di sekitar kaki karca yang bersila ini.
Terdapat uang sisa sisa pengunjung
Puncak Arca
*warga sekitar melakukan jiarah di Malam Jumat Manis di kawasan ini tutur pak havit
Puncak Hyang/Arca
Puas Mengabadikan beberapa photo di puncak hyang (Arca) kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Argopuro yang letaknya berdampingan serta memakan waktu 20 menit dengan sedikit turunan dan tanjakan.

Menuju Puncak Argopuro
Puncak Argopuro
Langkah kaki kami di mulai kembali menuju Savana Lonceng dengan jalan menurun di akhiri dengan rerumputan hijau di keliling hutan cemara,  
Savana Lonceng dari jalur puncak argopuro
12 Februari 2016 (hari ke-3)
Puncak Renganis-Cisentor-Rawa Embik-Cikasur


Malam hari di savana lonceng kemi merencanakan untuk menyaksikan sunrise di puncak argopuro, namun dikarenakan cuaca yang berkabut kamipun mengurungakan niat tersebut dan menunggu terang untuk melakukan perjalanan menuju puncak Rengganis, di area savana lonceng ini terdapat banyak ayam hutan yang berkeliaran, serta kokokannya yang memanjakan telinga.
Camp di savana Lonceng
Info : ada 2 jalur menuju savana lonceng saat di persimpangan jika mengambi arah kiri menajak kita langsungmenuju puncak Arca dan Argopuro sedangkan ke arah kanan dengan jalur landai sedikit menurun membawa kita menuju savana lonceng

Pukul 06:00 setelah menenggak beberapa teguk minuman hangat yang di sediakan oleh chef Zum-zum perjalanan menuju puncak rengganispun di mulai, jalurnya sedikit menanjak menelusuri hutan cemara 

Menuju Pucak rengganis 
setelah keluar dari hutan cemara kita akan melihat bekas kolam di zaman kerajaan dahulu yang mulai tertutup ruput liar jika diliat dari gambar dibawah letak bekas kolam pemandian beradi di sebelah kanan gambar

Setelah Hutan cemara
Setelah melewati jalur di atas kita akan melihat kawasan berbatu putih dari kejauhan, kawasan ini merupakan lokasi kawah pegunungan argopuro, karena gunung ini dahulunya termasuk gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi, namun aroma belerang masih pekat tercium di kawasan ini.
Pak Havit mengambil air di bebatuan yang
merupakan penampungan air hujan
Kami melewatkan kawasan kawah dahulu serta melajutkan perjalanan menuju puncak rengganis dengan jalur yang menjak curam beralaskan batu cadas di hiasi aroma pekat belerang seperti gambar dibawah ini

Track menuju puncak rengganis
dari atas sana terdapat tampungan air kembali dari batu, spontan pak havit pun mengambilnya kembali untuk di minum *ini air langit murni tutur pak havit

Tampunga air hujan ke - 2
kami cukup menikmati puncak rengganis ini, udara pagi yang sejuk di iringi kabur membuat langkah kaki kami kian berat melangkahkan kaki meninggalkan kawasan ini


Kegilaan pun kian memuncak saat kami telanjang dada di puncak rengganis saat pagi buta hembusan angin kiat menyatu keraga kami dan membuat tawa kami pecah di tempat ini

Telanjang dada di pagi hari
sisa-sisa bangunan masih nampak jelas membuktikan adanya kehidupan di masa lampau, menurut pak havit sisa bangunan ini bekas candi
sisa bangunan di puncak rengganis
sedikit cerita mengenai Dewi Rengganis

Rengganis merupakan nama seorang putri zaman kerajaan majapahit, beberapa kisah legenda Dewi Rengganis mendiami puncak gunung argopiro ini memiliki cerita yang berbeda beda dikarenakan fokor cerita yang tutun temurun via mulut kemulut, yang masih menyisakankesimpang siuran ceritanya beberapa cerita tentang Dewi rengganis yang saya ketahui:

  1. Dewi rengganis merupakan putri Raja Brawijaya yang sangat disayang dan pada suatu ketika kekuasaan akan jatuh kepada Dewi rengganis. untuk menghindari itu, munculah suatu mandat untuk membangun istana di atas gunung Argopuro lengkap dengan segala kebutuhannya, Dewi Rengganis bersama dayang-dayangnya yang setia menguasai daerah kerajaan tersebut yang kini menjadi puncak Rengganis.
  2. keberadaan Dewi Rengganis sebagai putri selir dari Prabu Brawijaya tidak diakui. saat dewasa, dia didampingi patih dan pengikutnya yang setia melarikan diri dan mendirikan kerajaan di atas puncah gunung Argopuro.
  3. Kawasan puncak merupakan tempat bertapa seorang raja yang sudah lengser atau turun tahta dan menjadi pendeta, bersama dengan putrinya bernama Dewi rengganis yang juga bertapa berilmu tinggi karena hanya mengkonsumsi sari bunga.
  4. Dewi Rengganis yang tidak diakui keberadaannya suatu hari diajak ke puncak argopuro, lalu ditinggalkan disana, Akhirnya dia di temukan seorang petapa yang merawat dan mengajati ilmu hingga dewasa serta membuat kerajaan di atas puncak Rengganis ini.
Walaupun cerita ini masih simpang siur namaun sisa-sisa bangunan yang tertelan waktu menjadi bukti adanya kehidupan di puncak argopuro ini.


perjalanan di lanjutka ke area kawah di sana terdapat dua makam, dan jauh di ujung sana terdapat anak tanggan menuju kawah, namun kondisinya sudah tertutup rapat oleh tanaman sehingga kami tidak dapat melewatinya, menurut Mas irwan tangga tersebut merupakan akses keluar masuk menuju koplek candi ini
Area Kawah
Tanaman Manis Rejo / Panjang Jiwo
*Buah yang matang (berwarna kehitaman) dapat dikonsumsi rawanya manis
Kembang angin,
*yang merambat pada batang pohon bisa di godog untuk ramuan minuma
Mas Abi bermain Harmonika di sekitar savana Lonceng



*Sabana Lonceng, menurut penuturan Mas Irwan dia dan rombongan yang berjumlah 8 orang pernah melihat penampakan sosok tak berkepala menangis pada malam hari di tempat ini


Pukul 10:00

Setelah Sarapan pagi serta puas menjelajahi area puncak Rengganis, Kawah & sabana Lonceng kami melanjutkan perjalanan turun menuju Cikasur yang merupakan camp terakhir kami di gunung argopuro

Track yang akan kita lalui untuk menju cisentor cendrug landai menurun melewati savan-savana yang indah memanjakan mata, sekitar 1 jam berjalan kita akan menemui sumber air berbentuk sungai bernama Rawa embik, konon tempat ini merupakan area binatang tenak di gembala. 

30 menit berjalan dari rawa embik dengan medan yang sama kita tiba di cisentor, di sini ada bangunan semi permanen yang bisa kita gunakan untuk berteduh dan tanah lapang yang dapat di buat camp di sini, sumber air yang dekat menjadikan tempat ini nyaman untuk berkemah, namun tujuan camp kami di cikasur, jadi kami hanya ber istirahan dan makan siang di sini. sembari menunggu hujan reda yang menyambut kedatangan kami.


Setelah hujan mulai reda, istirahat cukup dan perut sudah terisi kami melanjutkan perjalanan, di awal perjalanan kita akan menyebrangi sungai kecil sebagai petanda tanjakan, tanjakan ini lumayan menguras tenaga di saat perut kenyang, namun setelah tanjakan ini berakhir medan akan menurun dengan beberapa bonus savana, kita akan keluar masuk savan hingga tiba di cikasur

Turunan menuju cikasur

Tanaman belidur
Tanaman ini wajib kita hindari bersentuhan langsung dengan anggota badan kita dikarenakan memberika efek gatal yang teramat sangat menyiksa, menurut pak Havit dan mas Irwan, gatal yang diberikan tanaman ini bisa bertahan 1 hari, penangkalnya merupakan tanaman yang hidup di sampingnya, tanaman ini banyak kita temui di perjalanan dari Cisentor hingga perjalanan menju cikasur, mereka berdiri tegak di pinggir pinggir jalan setapak yang menyatu dengan rerumputan dan semak belukar, taman ini bisa setinggi bandan kita jadi kita harus berhati hati
Sisa sisa kebakaran hutan 2013
Track yang rapat tertutup reumputan
Pepohonan tumbang menjadi rintangan perjalanan tak jarang kita harus melompati & mengolongi pepohonan

Savana selama perjalanan cisentor - Cikasur
Bunga di savana
Savana berkabut
1 jam 30 menit keluar masuk hutan dan savana dengan track yang kecil membuat kita berjalan bak model papan atas, kita akan meliaht sisa bangunan serta pohon di tengah tengan savan yang luas menandaka kita telah tiba di cikasur.

Cikasur adalah sebuah padang savan dan ilalang yang paling luas di gunung argopuro. tempat ini adalah bekas landasan pesawat yang di bangun pada zaman kolonial Belanda, bukti pendukung yang menunjukan kebenaranya adalah sebuah mesin genset yang ada di salah satu sudut bekas landasan tersembunyi di antara semak belukar. di badan genset tampak tulisan 1912 sebagai petunjuk masnya, selain itu, adanya menara pengawas yang sudah roboh, kini kondisi landasan pesawat itu berupa lapangan terbuka yang dipenuhi illang dan di berinama Lembah Cikasur ladang pembantaian (The Killing Field). julukan itu tibul berdasarkan cerita pembangunan nya. landasn ini pertama kali dikerjakan oleh beberapa orang dengan upah. lalu pekerja itu mengajak penduduk lainya untuk ikut dalam pembangunan landasan pesawat tersebut. Akhirnya semua orang mualai dari Orang Tua, Muda, laki-laki, perempuan mulai mendaftarkan diri untuk bergabung.
setelah pembangunan selesai, para pekerja tidak dibayar serta tidak diperkenankan meninggalkan tempat, mereka dipaksa membuat galian panjang untuk saluran air. dengan perlakuan kasar dan berbagai siksaan, disinilah tragedi pembantaian terjadi. saat galian selesai dikerjakan, beberapa truck terbuka beserta serdadu belanda bersenjata lengkap mendekat serta membondong peluru ke arah pekerja dengan membabi buta. galian itu sengaja dibuat untuk mengubur para pekerja agar lokasi landasan pesawat itu tidak bocor ke para pejuang. 
Landasan ini juga pernah dikuasi tentara jepang, namun menjelang kemerdekaan, TNI sempat menguasainya. Akhirnya landasan itu ditinggalkan karena berada di pegunungan terpencil dan tidak terjamah selama puluhan tahun, bahkan dilupakan.

*Menurut Mas Abi, cerita yang ia baca mengenai cikasur, sering terjadinya penampakan penampakan wanita belanda (None Londo) beramput pirang serta berkaki kuda
Sisa Banguan di Cikasur
Pohon penanda cikasur sekaligus tempat camp disini
Saat berkemah di cikasur
Batu Bata sisa bangunan belanda
sisa ubin bangunan
Sungai di cikasur tertutup tanaman selada air
Bulu merak
Air yang jernih di balik hijaunya tanaman diatasnya
Sungai Cikasur
Di cikasur terdapat sungai sebagai sumber Air, Selada Air yang bisa kita makan, serta menyaksikan Burung Merak


13 Februari 2016 (Hari ke-4)
Cikasur - Mata Air 2-Mata Air 1-Makadam-Pos Baderan
Pukul 08:30 kami bergegas menuju Pos Pendakian Baderan, Jalan yang menurun curam kian menantang dikarenakan jalaur ini sering dilalui motor warga yang mengambil selada air dan para ojeg yang mengantarkan peengunjung ke cikasur menurut info tarif ojek dari baderan ke cikasur Rp. 350.000,-

kita akan melewati sumber air 2 & 1 yang bisa diguanakn beristirahat di pos air 2 kami beristirahat serta makan siang, 1 jam lamanya kami di sumber air 2, perjalanan sekitar 45 menit kami tiba di sumber air 1, untuk beberapa menit duduk dan bergegas melanjutkan perjalanna turun, hingga akhirnya kita akan tiba di ladang warga yang di sebut desa baduy, dikarenakan warga sekitar saat musim tanam dan panen tinggan di ladang merekan, perkebuan kopi dan tembakau menjadi pemandangan sepanjang perjalanan setelah kita keluar dari hutan, di hiasa bukit bukit di sisi jalan yang menambah keindahan jalur ini, setelahh jalan tanah berakhir kita tiba di makadam, jalanan berbatu terjal memperlambat langkah kaki 30 menit lamanya kita bergelut dengan jalan berbatu hingga tiba di jalan aspal dan pos pendakian baderan.

POS Pendakian Baderan
di Pos Pendakian baderan mas Tio sudah menunggu kedatangan kami, untuk melanjutkan perjalanan ke kota malang dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam, dari malang lah kami berpisah


Berdasarkan pengalaman pendakian Gunung Argopuro diatas, saya buatkan Rundown sebagai patokan untuk pembaca yang ingin melakukan petualangan di gunung ini,

ROUNDDOWN
GUNUNG ARGOPURO 3.088 Mdpl (Track Terpanjang Se-Jawa)
10-13 Februari 2015 (Bremi-Baderan)

TANGGAL
WAKTU
KETERANGAN
TOTAL
10 Februari 2016
(Hari ke-1)
02:15 – 03:00
Perjalanan Tebet (Jakarta) Menuju bandara Soekarno hatta, Cengkareng
45 menit
03:00 - 04:00
Wraping , Check In, masuk gate
1 Jam
04-00 - 05:30
Penerbangan Jakarta-Surabaya
1 Jam 30 menit
05:30 - 07:00
Sarapan, Bertemu Team Mas Irwan
1 jam 30 menit
07:00 - 11:00
Perjalanan Bandara Juanda Surabaya ke Pos Pendakian (Basecamp Bremi)
4 Jam
11:00 - 13:30
Registrasi, Brefing, Makan Siang, Bertemu Ranger Gunung Argopuro, Repacking
2 Jam 30 menit
13:30 - 17:30
Perjalanan Pos pendakian ke danau Hidup (Check Point: Hutan damar)
3 jam
17:30
Camp danau taman Hidup

11 Februari 2016
(Hari Ke-2)
09:00 - 11:30
Perjalanan dari Danau Hidup Ke Cemoro Lima (Check Point)
2 jam 30 menit
11:00 - 12:40
Istirahat & makan Siang
1 Jam 40 menit
12:40 - 16:00
Perjalanan Cemoro Lima ke Puncak Hyang (Arca) Via Gunung rangkak
3 Jam 20 menit
16:00 - 16:20
Perjalanan Puncak Hyang ke Puncak Argopuro
20 menit
16:30 - 17:30
Perjalanan menuju savana Lonceng
1 jam
17:30
Camp savana Lonceng

12 Februari 2016
(Hari ke-3)
06:00 - 06:30
Perjalanan Savana Lonceng ke Puncak Rengganis
30 Menit
06:30 - 08:30
Menikmati Puncak Rengganis, Keliling Area Kawah
2 Jam
08:30 - 10:00
Turun ke Savana Lonceng, sarapan, Repacking
1 Jam 30 Menit
10:00 - 11:00
Perjalanan Savana Lonceng ke Rawa Embik (Check Ponit)
1 Jam
11:00 - 11:30
Perjalanan Rawa Embik ke Cisentor
30 menit
11:30 - 13:00
Istirahat & Makan siang
2 Jam
13:00 - 14:30
Perjalanan Cisentor ke Cikasur
1 Jam 30 Menit
14:30
Camp Cikasur

13 Februari 2016
(Hari ke- 4)
08:30 - 11:45
Perjalanan Cikasur ke Sumber air 2
4 Jam 15 menit
11:45 - 13:00
Istirahat Makan Siang
1 Jam 15 menit
13:00 - 13:45
Perjalanan Suber air 2 ke sumber air 1
45 Menit
13:45 - 14:00
Isrirahat
15 Menit
14:00 - 18:00
Perjalanan Sumber air 1 ke Pos Pendakian Baderan (Basecamp)
4 Jam
18:00 - 19:19
Lapor & Istirahat
1 Jam 19 Menit
19:19 - 00:15
Perjalanan Pos Baderan ke Malang
3 Jam 36 Menit
TOTAL PERJALANAN
47 Jam 30 Menit
*Waktu tidak termasuk Camp malam


__________________________________________________________________________________
Sponsor Utama
TERIMAKASIH


  1. Kepada Allah S.W.T yang memberikan kesehatan, kelancaran serta kesempatan berkunjung ke Argopuro.
  2. Kepada Mas Yadi Mulyadi sebagai Sponsor tungal.
  3. Mas Abi yang memberikan alunan harmonika dan ceng-cengannya yang menghangatkan kebersamaan, serta selohan nya yang selalu tengiang-ngiang "Weteng Nomor Siji"
  4. Pak Havit, Mas Irwan, Mas Imam & Mas Jumhari yang setia mendampingi perjalanan kami

P A Y U N G    R I M B A
WETENG NOMOR SIJI

7 comments:

  1. Sungguh cerita yang sangat menarik dan terangkum apik. Diitunggu cerita dan petualangan berikutnya
    salam payung rimba.
    "Weteng nomor siji"

    ReplyDelete
  2. Sungguh cerita yang sangat menarik dan terangkum apik. Diitunggu cerita dan petualangan berikutnya
    salam payung rimba.
    "Weteng nomor siji"

    ReplyDelete
  3. Terimakasih atas kunjungannya "Weteng nomor siji"

    ReplyDelete
  4. Ceritanya bagus mas , tersusun dengan rapi, alurnya jelas
    bagus banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas kunjunganya mas Wahyu

      Delete
  5. terimakasih ceritanya mas, cukup bagus sebagai gambaran kalau mau kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga atas kunjungannya Mba Nova Febriyanti, semoga bermanfaat.

      Delete

Payung Rimba. Powered by Blogger.